Angka Bunuh Diri di Greenland Tinggi

by -35 views

RADARINDO.co.id : Statistik peme­rin­tah, sejak 2013 ada sekitar 700 kelahiran dan 800 aborsi setiap ta­hun. Greenland adalah pulau terbe­sar di dunia, tapi jumlah pendu­duknya sangat sedikit, ha­nya 55.992 jiwa pada 1 Januari 2019 menurut Statistics Green­land.

Lebih separuh perempuan yang hamil memutuskan untuk meng­gugurkan kandungan mere­ka. Ini berarti ada 30 aborsi setiap seribu orang perempuan. Sebagai perbandingan, di Denmark angka aborsi adalah 12 pada setiap seribu perempuan, menurut statistik resmi.

Sekalipun resminya Green­land memiliki pemerintahan sendiri, ini masih merupakan wilayah yang tergantung pada Denmark. Kesulitan ekonomi, perumah­an yang buruk dan kurangnya pen­di­dikan mungkin menyum­bang pada angka aborsi yang tinggi, tetapi ini semua tidak menjelaskan segalanya di negeri di mana kontrasepsi gratis dan mudah diakses.

Di banyak negara, bahkan ketika aborsi legal dan gratis, masih menghadapi stigma terkait pilihan tersebut. Di Greenland, banyak perempuan tidak khawatir. Mereka tidak merasa kehamilan yang tak diinginkan sebagai sesuatu yang me­malukan.

Di Greenland, perdebatan me­ngenai aborsi tidak tampak sebagai subyek yang tabu atau dipenuhi kutukan moral, demi­kian pula hal­nya dengan seks sebelum menikah atau kehamilan yang tak diren­canakan.

Greenland menyediakan kon­trasepsi gratis tetapi perempuan tidak banyak yang menggu­nakan­nya. Kehamilan yang tak diingin­kan juga bisa disebabkan kon­sumsi alkohol. Baik laki-laki mau­pun perempuan lupa mema­kai alat kontrasepsi ketika mereka berada di bawah pengaruh alcohol.

Menurut penelitian Her­man­ns­dottir, ada tiga alasan mengapa pe­rempuan tidak menggunakan alat kontrasepsi di Greenland. Pertama, perempuan yang me­nginginkan anak, kedua, perem­puan yang hidupnya penuh gejolak dan dipengaruhi keke­ras­an dan alko­hol bisa lupa meng­gunakan pil kontrasepsi, dan ketiga, jika pasa­ngan mereka menolak memakai kondom.

Seorang perempuan mungkin memutuskan untuk meng­henti­kan kehamilan jika kehamilannya me­rupakan hasil dari pemer­ko­saan atau ia tidak ingin melahir­kan anak dalam rumah tangga yang kacau.

“Aborsi mungkin lebih baik da­ripada anak-anak yang diabai­kan atau tidak diinginkan,” terang Lars Mosgaard, seorang dokter dari ko­ta kecil di bagian selatan Green­land.

Kekerasan merupakan masa­lah kesehatan yang berulang di Green­land satu dari sepuluh pelajar muda melaporkan pernah menyaksikan ibu mereka terpapar kekerasan, menurut Nordic Cen­tre for Welfare and Social Issues. Selain menyaksikan keke­rasan, anak-anak ini terkadang juga men­jadi korban.

“Sepertiga orang dewasa di Green­land pernah terpapar keke­rasan ketika mereka anak-anak,” terang Ditte Solbeck yang menge­lola program pemerintah untuk menghentikan kekerasan seksual kepada Danish Broadcasting Corporation. (KRO/RD/ANS)