RADARINDO.co.id : KEBERSAMAAN dan solidaritas itu bisa terangkum dalam satu sikap dan perbuatan yang dapat kita implementasikan dalam kerja nyata bergotong royong.

Itulah sebabnya jika Pancasila itu dipaparkan isinya  seperti dikatakan Sukarno berwujud nyatanya dalam sikap perbuatan secara bersamaan kita lakukan. Jadi gotong royong itu bersifat suka rela, ikhlas tanpa tarif maupun berharap atas imbalan tertentu.

Sehingga makna gotong royong itu merupakan kesadaran kolektif yang kreatif atas inisiatif masing-masing orang yang melakukan tanpa keharusan dari pihak mana pun.

Dalam tradisi masyarakat kita di pedesaan atau negari, wujud gotong royong itu selalu dilakukan mulai untuk lingkungan kekuarga, seperti mengolah ladang atau sawah, hingga menuai hasil panen. Juga  dalam usaha menghadapi masalah secara bersama-sama untuk dapat mengatasinya, agar beban yang dipikul tidak oleh pihak yang harus menghadapinya tidak sampai menanggung sendiri beban yang harus dipikul, seperti dalam melaksanakan upacara sedekah, hajatan atau pada  upacara tradisi khitanan dan perkawinan serta lainnya dengan cara membantu dengan cara membawa ragam bahan keperluan yang dibutuhkan untuk dapat terselanggaranya acara upacara yang hendak dilakukan itu.

Betapa indah dan harmoninya tatanan dari kekerabatan yang ada dalam masyarakat kita ini. Semua tampak  jauh dari sikap dan sifat individualistik sebagai salah satu dari ciri masyarakat yang materialistik kapitalis.

Karenanya sikap dan sifat sosialistik kita ini patut dijaga agar dapat menjadi bagian dari benteng pertahanan budaya kita yang terus tergerus oleh desakan budaya baru yang sangat egoistik sifatnya, karena birahi persaingan seperti budaya pasar bebas.

Dan nilai tradisi serta budaya kita yang adiluhung ini bisa terus lestari jika mau ditimpali oleh tuntutan agama yang meyakinkan bahwa manusia yang sempurna itu adalah mereka yang bisa berbuat serta memberi lebih banyak  manfaat bagi orang lain. Maka itu konsepsi zakat mal, zakat fitrah dan memberi makan kepada anak yatim piatu dan orang terlantar menjadi bagian dari prilaku terpuji, bahkan terbilang mulia hingga ada janji untuk itu bagi mereka yang melakukannya  akan menikmati surga kelak setelah mati.

Ibadah puasa itu sendiri bisa dipaham sebagai tahapan menuju perbuatan terpuji itu yang harus terus menerus dilakukan agar kepekaan rasa dan empati dapat terus bertumbuh dan memutik jadi buah yang memberi manfaat bagi orang lain.

Dalam kiprah para kaum intelektual, upaya berbagi ide, gagasan serta ilmu pengetahuan yang bermandaat bagi orang lain bisa dipahami bukan sekedar pekerjaan seorang profesional saja, tetapi juga dapat patut dipahami pula sebagai bagian ibadah. Maka itu menulis ide dan gagasan atau pendapat melalui media sosial dapat juga dimaksudkan untuk memberi manfaat bagi orang lain.

Bukan untuk sekedar mengumbar birahi atau rasa benci maupun ajang caci maki. Sebab implementasi dari essensi gotong royong itu sendiri dapat diwujudkan dalam upaya untuk saling mencerdaskan dan membangun sikap kritis yang positif.

Gotong royong dan keadilan sosial dalam Pancasila seperti lima penjuru mata angin yang tidak terpisahkan meski pada saat yang sama aksentuasi dan iramanya bisa berbeda, layaknya philharmonik yang tak terlukiskan warna nada keparipurnaannya. Nuansa religius Yang Mahs Esa tak menggetarkan rasa kemanusiaan yang adil dan beradab, jika ikatan persatuan tidak disadari sebagai pertalian dari kebangsaan dan persaudaraan untuk keadilan sosial bersama.

Itulah sebabnya rasa miris kita menggelorakan kemarahan, ketika menyaksikan sikap abai mereka yang memangku amanah rakyat diam membisu, tak berbuat apa-apa, menyaksikan tercinta hendak terperosok masuk ke lembah duka dan nista.

Catatan ini ditulis dengan segenap kegamangan yang sulit disimpulkan saat menjelang final Pemilihan Presiden Indonesia tahun 2019. Kecuali rasa cemas yang meranggas. Setiap orang pun boleh berbeda pendapat, mumpung belum dilarang, apakah ungkapan ini bisa disebut puisi esai, atau sebaliknya, esai puisi.

Karena sebagai penulis, saya tak berminat untuk latah memperkarakannya.  (Tulisan Jacob Ereste, Jakarta, 14 Mei 2019)
(KRO/RD)