RADARINDO.co.id – ACEH: Puluhan warga Desa Suak Puntong, Kecamatan Kuala Pesisir, Kabupaten Nagan Raya memblokir jalan masuk lokasi pembangunan Perusahaan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) 3 dan 4 dengan menggunakan kawat berduri, Selasa (14/5).

Aksi tersebut dilakukan karena ti­dak adanya kepedulian pihak perusahaan terhadap kondisi warga desa s­e­kitar area operasional. Selama ini, war­ga menuntut ganti rugi tempat tinggal, namun tidak digubris perusahaan.

Warga Dusun Gelangang Merak itu tinggal di lingkungan yang dihimpit dua perusahaan besar selama 6 tahun. Ada pelabuhan penumpukan batu bara atau Stokpile PT Mifa Bersaudara dan PLTU. Ganti rugi yang mereka ingin­kan sejak tahun sebelumnya belum men­dapat respons baik dari PLTU.

Salah satu warga Cut Warkah me­nga­takan, aksi tersebut hanya menuntut ganti rugi. Jika tidak ada keputusan jelas dan masih menggantung dari pihak perusahaan, mereka akan ber­tahan di lokasi unjuk rasa sampai dipenuhi tuntutannya.

“Buka puasa disini pun tidak ma­salah, kami hanya meminta ganti rugi hak kami, rumah dan bangunan, agar kami bisa pindah ke permukiman lainnya, kita mau pihak PT Mifa dan PLTU bersedia melakukan hal tersebut,” kata Cut Warkah kepada warta­wan.

Dikatakannya, ada upaya yang dita­warkan pemerintah sebelumnya. Namun tidak untuk ganti rugi, mereka hanya dianjurkan untuk relokasi tanpa adanya biaya apapun. Sementara ba­ngunan dan tanah mereka ditinggalkan saja. Hal itu tidak bisa diterima masya­rakat yang berjumlah 45 kepala keluar­ga (KK) tersebut.

Diakuinya, aksi unjuk rasa mereka juga tidak mendapat respons positif dari aparat desa setempat. Meskipun semua pihak tahu, warga Dusun Geu­langang Merak, Suak Puntong sudah sejak 2014 sesak hidup dalam polusi debu batu bara.

“Kami tidak pernah mau direlokasi, karena kami bukan korban bencana alam, ganti rugi tanah dan bangunan ka­mi sesuai dengan harga yang ber­laku saat ini. Karena lokasinya terletak di jalan lintas nasional Meulaboh-Tapaktuan,” jelasnya. (KRO/RD/ANS)