RADARINDO.co.id – LANGKAT : Hutan bakau di Sumatera Utara banyak yang beralih fungsi menjadi perkebunan kelapa sawit dan peruntukan lainnya. Dari 100 ribu hektare hu­tan mangrove di Sumut, sekira 40-50% sudah beralih fungsi, 20% menga­lami gangguan, dan sisanya masih utuh.

Menyikapi alih fungsi hutan bakau menjadi kebun kelapa sawit, Pegiat Lingkungan dan Pertanian, Sugianto Makmur dalam siaran persnya, baru-baru ini mengaku prihatin dengan kerusakan ratusan hektare hutan bakau di Sumatera Utara, termasuk di Kabupaten Langkat dan daerah lainnya yang memiliki hutan bakau luas.

Sugianto sendiri sudah berupaya menyelamatkan hutan bakau dengan membuktikannya melakukan konservasi mandiri hutan bakau di Kun Kun, Natal, Mandailing Natal.

“Ada sekitar 100 hektare lahan yang kami ganti rugikan milik masyarakat. Hutan ini sudah rusak, tidak ada lagi pohonnya, pada tahun 2009. Perlahan dan pasti, hutan mulai pulih kembali. Sekarang, hutan ini menjadi sumber penghasilan bagi masyarakat yang tinggal di kawasan Kun kun, sebagai tempat mereka menangkap kepiting, udang dan ikan,” kata Sugianto.

Dengan kondisi hutan bakau di Kun Kun yang sudah pulih, Sugianto hanya meminta kepada masyarakat untuk tidak menangkap ikan atau kepiting yang terlalu kecil serta tidak menembak burung yang tinggal di hutan bakau, terutama burung langka yang masuk dalam daftar dilindungi.

Sepanjang perjalanan mengembali­kan fungsi hutan bakau yang rusak di Kun Kun, Mandailing Natal, menurut ayah 4 anak ini, ada beberapa kali tawa­ran untuk membeli lahan yang sudah dikonservasi untuk dijadikan kebun sawit.

“Tawaran seperti itu saya tolak mentah-mentah. Karena, ada kepuasan batin yang besar dalam merawat hutan bakau ini. Hampir semua muara sungai di sana sudah berubah menjadi lahan sawit. Seberang kita adalah hutan alami, sedangkan kita adalah hutan yang baru berusia 9 tahun, tinggi dan besarnya seragam, karena tumbuh bersamaan,” tandas Sugianto.

Menurutnya, hutan bakau jika dikelola dengan baik akan memberi dampak positif bagi masyarakat dise­kitarnya. Beberapa jenis hewan laut banyak menghuni hutan mangrove seperti ikan, ubur-ubur, udang, kepiting, siput, dan hewan lainnya termasuk bua­ya. Karena biasanya hewan laut meng­gunakan hutan mangrove sebagai tempat perlin­dungan dari predator teru­tama bagi hewan laut yang sedang ber­anjak dewasa. Hewan laut juga meman­faatkan hutan mangrove untuk mendu­kung proses pemijahan dan juga men­jadikan hutan mangrove sebagai nursery ground (tanah pembibitan) untuk membantu membesarkan anak-anak mereka. (KRO/RD/ANS)