Belasan Santri Ponpes Al Ikhwan Diduga Jadi Korban Cabul

by -0 views

RADARINDO.co.id : Belasan santri Ponpes Al Ikhwan Desa Serapuh ABC Kecamatan Padangtualang Kabupaten Langkat, diduga menjadi korban pencabulan oleh oknum pemilik pesantren. 23 Dari ratusan anak didik di sana melarikan diri, Selasa (12/3) malam ke rumah-rumah penduduk dan ke kantor desa setempat meminta pertolongan.

 

Sejumlah warga yang mengetahui kejadian dari pengakuan sejumlah santri, langsung mendatangi pondok hendak meminta pertanggungjawaban, tetapi tidak berhasil bertemu pengelola. Tidak lama kemudian, polisi datang menenangkan situasi dan beberapa jam berikutnya terduga pelaku berinisial DD, yang merupakan ketua yayasan atau pemilik pondok, langsung diamankan.

 

Beberapa santri mengatakan kejadian tersebut sudah berlangsung lama. Masing-masing korban dibawa ke rumah kosong lingkungan pondok secara terpisah kemudian diajak bicara. Setelah itu berbagai alasan dikemukakan DD seperti ingin melihat penyakit kulit korban dan menuding korban lain memiliki penyakit pada alat kelamin sebelum melakukan pencabulan.

 

Santri lain menambahkan, setelah banyaknya korban sesama teman mereka, para santri berencana melaporkan DD kepada aparat kepolisian namun belum berhasil dan rencana tersebut diketahui terduga pelaku. Akhirnya karena takut dilaporkan, DD kemudian mengumpulkan puluhan santri Selasa siang dan meminta maaf seraya mengaku menyesal. Namun 23 santri yang sudah terlanjur sakit hati atas perbuatan DD, memberanikan diri lari ke kantor desa dan rumah penduduk agar kasusnya diketahui masyarakat setempat.

 

Kapolsek Padangtualang, AKP Sammailun Pulungan, saat dikonfirmasi , Rabu (13/3), mengatakan bahwa tersangka sudah diserahkan ke Polres Langkat.

 

Sementara, Kasat Reskrim Polres Langkat AKP Juriadi, menambahkan bahwa kasusnya masih diselidiki dan jumlah korban yang telah didata 14 orang, 5 telah diambil keterangannya.

Juriadi menyebut, jumlah korban tidak tertutup kemungkinan bertambah dan hasil pemeriksaan diketahui perbuatan cabul terhadap anak di bawah umur tersebut telah terjadi sejak April tahun lalu. (KRO/RD/WPD)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *